Kalilunjar-banjarnegara.desa.id

Website desa kalilunjar banjarmangu banjarnegara
Website desa kalilunjar banjarmangu banjarnegara

Dalam penggalan cerita desa kalilunjar era penjajahan Belanda, ada seorang prajurit perang Diponegoro yang bersembunyi karena dikejar oleh Belanda. Dia bernama Ki Candra. Ki Candra adalah salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang memiliki kesaktian kanuragan yang tinggi, Bertanding dengan siapapun dia selalu menang. Oleh karena itu Penjajah tidak ingin Ki chandra menjadi penghalang kepentingan Belanda dalam menjajah. Sehingga menjadikannya buronan dan harus dibunuh dengan cara apapun. 

Artikel ini Dicopy dari http:// kalilunjar-banjarnegara .desa.id/index.php/first/artikel/104 desa kalilunjar dan diterjemahkan melalui google translate dengan sedikit penyempurnaan oleh admin

Ki Candra kemudian mengembara seorang diri menuju arah utara. Sampailah dia di puncak sebuah bukit. Disana dia mendapati pemandangan yang sangat indah. Jika menghadap selatan terlihat aliran sungai yang panjang, jika menghadap utara nampak pegunungan yang sangat indah. Dalam hati Ki Candra berfikir bahwa tempat ini suatu saat bisa menjadi sumber penghidupan bagi siapa saja yang mau berusaha.

Ketika Ki Candra sedang melamun sambil menikmari keindahan pemandangan yang serba indah tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan cantik yang entah darimana datangnya. Ki Candra dan perempuan itu saling punya rasa suka. Kemudian keduanya saling menjalin tali asmara di puncak Situk. Perempuan itu akhirnya disebut Nyi Candra.

Ki Candra kemudian mengajak Nyi Candra turun mencari tempat yang luas untuk bertempat tinggal. Sampailah di sebuah tempat yang dirasa nyaman dan aman.

Karena Nyi Candra merasa betah ditempat itu, kemudian meminta pada Ki Candra untuk menetap disana dan Ki Candra menyetujui permintaan tersebut.

Sebuah rumah kecil beratap duk ( daun pohon aren ), sebelah selatan berpagar daun ilalang, bagian barat dan timur dikelilingi rumput ilalang dan pohon aren, sebelah utara mengalir sungai kecil yang jernih. Disitulah Ki Candra tinggal berumah tangga.

Disuatu hari terjadi fenomena aneh, mengapa aneh?. Sungai kecil yang semula mengalir air yang jernih berubah di banjiri Unjar (sejenis ikan air tawar) yang sangat banyak dan beraneka warna. Banyaknya unjar di sungai itu hingga air sungai tidak kelihatan. Namun fenomena itu berlangsung tidak lama, hanya sebentar.

Ki Candra dan isterinya merasa keheranan menyaksikan kejadian itu. Kemudian dia muncul ide. Karena tempat itu belum mempunyai nama dan baru saja terjadi keanehan sebuah sungai dialiri unjar yang sangat banyak, Maka tempat tersebut diberi nama Kalilunjar.

Ringkas cerita, Ki Candra yang sudah lama berkeluarga dan bertempat tinggal di kalilunjar akhirnya terdengar juga sampai ke telinga para penjajah belanda. Kemudian mereka melakukan pencarian untuk membunuh Ki Candra.

Kemudian Ki Candra pergi ke arah barat masuk ke hutan yang ada d bukit dan terus berjalan. Setelah lelah berjalan akhirnya mereka berdua beristirahat. Sambil beristirahat Ki Candra melihat di atas dari kejauhan ada pohon yang bentuknya menyerupai Gong. Kemudian Ki Candra dan isterinya melanjutkan perjalanannya menuju pohon yang berbentuk seperti gong tersebut. Akhirnya mereka berdua sampai juga dibawah pohon itu. Ternyata pohon itu mempunyai dahan yang sangat besar dan daunnya sangat lebat. Pohon itu menjadi tempat tinggal binatang binatang hutan. Ada monyet, kera, burung dan lainnya. Karena dari jauh terlihat bentuknya yang menyerupai gong, kemudian tempat tersebut di beri nama grumbul genggong.

Ki Candra dan isterinya lama menetap ditempat itu hingga mempunyai kerurunan yang banyak. Tempat yang di beri nama genggong itu semakin lama semakin banyak penghuninya dan ditambah lagi warga lainnya yang berdatangan. Kemudian Ki Candra di nobatkan sebagai pemimpin warga disana dan di juluki dengan sebutan Mbah Cengkrong. Disana masyarakat hidup rukun, tenteram dan damai.

Seiring usia mbah Cengkrong yang semakin tua, kekuatan dan kesehatannya juga mulai menurun. Kemudian dia meminta buyutnya, Ki Pancadiwirya untuk meneruskan kepemimpinan desa. Ki Pancadiwirya menyanggupi dengan syarat pemerintahannya dipindah ke Kalilunjar, Karena di tempat yang sekarang sudah terasa sempit dengan terus bertambahnya jumlah warga. Mbah Cengkrong menyetujui syarat tersebut.

Kemudian ditentukan hari yang dianggap baik untuk perpindahan itu. Tepatnya tanggal 29 agustus 1833 Ki Pancadiwirya bersama punggawanya dan semua warga berangkat ke Kalilunjar dengan membawa akar genggong, keris purwasari dan air penghidupan meninggalkan grumbul genggong.

Dalam perjalanan, di tepi sungai mereka dihadang makhluk menyeramkan yang bernama setan wewe yang tidak terima rombongan Ki Pancadiwirya menempati kalilunjar. Akhirnya terjadi duel Ki Pancadiwirya Vs setan wewe yang menakutkan itu. Ki Pancadiwirya menghujamkan keris purwarupa ke dada makhluk itu dan seketika sirna berubah menjadi asap. Kemudian tempat itu diberi nama Kaliwewe. Rombongan itupun melanjutkan perjalanan ke kalilunjar.

Kalilunjar wilayahnya lebih luas dan layak dijadikan sebagai pusat pemerintahan desa kalilunjar. Disana warga hidup rukun makmur nyaman dan tenteram dibawah kepemimpinan Ki Pancadiwirya.

***
Dikisahkan oleh :
Mbah Robin Atmo Prayitno


Daftar Desa yang sudah menggunakan domain .desa.id

Share halaman ini melalui :